Malam itu........
Sejenak aku melihat layar laptopku, melihat isi beranda dari atas sampai bawah sebuah status mengejutkanku
"yang lain tengah berdiri asyik menonton pertunjukkan memalukan itu dan kau hanya bisa tertawa , puas kah ? #3thsilam"
hah status apa ini ? pikirku. aku mengingat 3 tahun silam terjadi kejadian yang tak pernah terlupakan, aku dan kejadian itu bukan sepenuhnya salahku ! dengan keras aku melempar tubuhku ke atas kasur, memandangi langit-langit memejamkan mata. Bayangan akan kejadian memalukan itu terekam kembali dengan jelas, aku yang hanya siswi biasa tak bisa berbuat apa-apa ketika melihatmu di bully di hadapan teman-temanmu sendiri , jelas itu bukan salahku ! kau sendiri yang menjatuhkan harga dirimu sampai pada akhirnya teman dekatmu pun membencimu.
"hei put gak mau mengakui juga kalau kamu menyelinap masuk rungan rahasia itu dan mengambil berkas-berkas soal ujian"
"dengar ya mel , aku gak pernah masuk kesana , itu semua jebakan ! " elaknya keras
"sekalipun kamu mengakui juga tak apa , cukup tau aja kalau kamu cuma ingin dapet nilai bagus sendirian"
"terserah kalian mau percaya atau tidak, yang pasti itu bukan aku" dia terisak dan pergi meninggalkan temannya
"heii put ngaku saja, dasar curang ! hu hu hu curang " teriak teman-teman satu selasar atas dan membully dia. aku berdiri tegap dan menatapnya nanar sebegitukah para teman yang kau anggap teman tidak percaya pada cerita kawannya sendiri.
"kamu.... hah" dia menangis di hadapanku, matanya merah dan air mata membasahi pipinya dengan derai yang berlinang, aku menatapnya kasihan terhadap hidupnya, terhadap kelakuannya .
"haha... ini kan yang kamu mau , gak enak kan di jauhi teman sendiri yang lebih menyakitkan mereka tidak mempercayaimu" kataku dengan tegas
"kamu... sebenci inikah sama aku ? kamu akan merasakan yang lebih dari ini,kamu akan kehilangan semuanya, semua yang kamu sayangi ! " katanya membalas dengan amarah yang membuncah
"aku akan baik-baik saja put !! " kataku sambil menekankan bagian akhir perkataaku
aku sedikit tertawa melihatnya begitu, bayangkan dia telah merebut posisiku dalam lapangan, dia telah merebut jabatanku dalam OSIS , dia telah merebut kasih sayang dari orang tuaku dan dia telah merebut laki-laki yang kusyangi dan akhirnya dia tiada dalam genggaman wanita tersebut. bagaimana tidak aku membencinya, aku hanya melakukan sedikit kesalahan yang tak sengaja tapi dia malah memperlancar kesalahan yang ku buat, jelas itu bukan salahku.
ruangan rahasia itu adalah ruangan dimana soal-soal ujian di simpan, aku menemukan ruangan itu dalam keadaan terbuka dan ketika aku melihat kedalam jelas soal-soal ujian akhir tertumpuk rapi, mendengar ada yang datang aku segera keluar dari ruangan tersebut dan pulpen yang berada di saku Rok terjatuh dan pulpen tersebut milik Putri. Bodohnya Putri menghampiriku dan mau saja kusuruh periksa ruangan itu dia sangat lama berada di dalam sana sampai guru kami menangkap basah dia dalam keadaan memegang soal tersebut.
Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya
3 tahun sudah berlalu kami pun lulus bersaama dan memasuki universitas yang berbeda, kini aku bertemu dengannya tepat berada di hadapanku, menatapku , saling memandang dan tersenyum.
dia telah melupakan segalanya dan teman-temanya telah kembali padanya dan aku yang duduk di hadapanya telah siap menjadi editor bukunya yang akan terbit.
sungguh pekerjaan yang amat berat
"bagaimana kabarmu " tanyanya
"seperti yang kau lihat ! aku baik-baik saja "
"sebentar lagi kamu akan kehilangan segalanya ! percayalah "
"oh ya ? siapa disini yang akan bertahan lebih lama ? tak bisa kah kau melupakan kejadian yang tak disengaja itu ? "
"kenapa ? apa kau takut ? kematian Dean bukan karena aku , tapi kau ! "
"siapa yang mengajak jalan Dean , siapa yang menyuruh kamu untuk kencan dengan kekasih orang "
"siapa yang menyuruhnya untuk minum obat flu dan menyuruhnya pulang kerumah " tukasnya tegas dan mulai membentak, aku tidak tau kalau sehabis itu Dean akan pergi dengan Putri, nyatanya dalam perjalanan mereka sial dan lebih sialnya mengapa bukan wanita itu saja yang mati.
" omong kosong "
''ingat ya , sampai kapanpun aku tidak akan melupakan ini semua ! "
"ingat ya tanpa aku , novel dan artikelmu takkan pernah terbit !!"
"aku bisa mencari editor lain "
"silahkan saja"
aku pergi meninggalkan Putri dengan secangkir coffe yang masih utuh dan mengepul panas, tatapannya belum berkedip sampai aku hilang di antara kerumunan orang yang keluar masuk restoran.
sudahlah lupakan semuanya, ini bukan salahmu . tak seharusnya kau mau menjadi editor untuk novel yang kesekian kalinya itu, bagaimana kalau dia ingin menghancurkan hidupku, mengambil semuanya yang ku punya , ouh TIDAKKK . Pikirku dalam-dalam....
lagu Tulus telah berhasil menenggelamkanku dalam antukan yang luar biasa dan sedikit demi sedikit aku mulai terpejam dan terbawa oleh mimpi. Tertidur dan terbangun dari mimpi yang buruk akan Dean dan Putri.
"hah , itu mimpi kah " lirihku dalam hati , suara pintu terbuka
"BUKAN Tan !!!! " sosok wanita muda dengan stik tinggi yang tajam berdiri mematung di depan pintu kamarku dengan senyuman sinis yang menyeramkan. Dan tongkat stik tersebut seperti siap menusukku
"kau harus meminta ma'af pada Dean tan , kau harus merasakan penderitaanku karenamu"
"AAAAAAKKKKKK............."
Malam itu kamar hotel 911 telah penuh dengan garis polisi dan bercak darah, aku bisa melihat diriku sendiri sedang di bawa oleh ambulan dan segera di otopsi, apa yang terjadi ? mengapa aku ?
Tiada............
*hasil lamunan menatap bintang di Maleo*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar